Kategori Buku

PENCARIAN BUKU

Fanspage Secangkir Buku

Blogger news

Recomended

IBUNDA (Maxim Gorky)

Judul: IBUNDA Penulis: Maxim Gorky Penerjemah : Pramoedya Ananta Toer Sebuah buku yang menceritakan tentang sosok perempuan yan...

About

Secangkir Buku. Diberdayakan oleh Blogger.

Pembayaran dan Pengiriman

Pembayaran bisa dilakukan dengan transfer ke BRI dan buku akan dikirim setelah menerima bukti transfer melalui bbm atau whatsapp.
Kami menggunakan jasa pengiriman POS Indonesia dengan menggunakan paket kilat khusus.
Kami belum ada toko offline tapi melayani COD untuk wilayah Sleman Yogyakarta ^^

Kontak Telepon

HP:
087803872802 || 087712861777

Pin BB:
5A87AE97 || 57AE33FF
Senin, 21 Desember 2015

Judul: IBUNDA
Penulis: Maxim Gorky
Penerjemah : Pramoedya Ananta Toer

Sebuah buku yang menceritakan tentang sosok perempuan yang hidup pada masa revolusi demokratik berlangsung di Rusia pada awal abad 20. Ibunda hidup dengan seorang suami yang merupakan peminum berat dan berperilaku kejam, ditambah lagi keadaan negara yang tidak menguntungkan bagi kaum bawah. Hidup Ibunda penuh kesengsaraan.
Sampai pada suatu ketika suaminya meninggal, sementara anaknya yang sudah besar menjadi aktivis buruh yang terlibat juga dalam perpolitikan. Keadaan itu sedikit demi sedikit mulai turut mengubahnya dari seorang perempuan lemah dan menderita menjadi perempuan yang tangguh. Ibunda turut terjun ke kancah revolusi ketika anaknya sendiri beserta kawan-kawan anaknya ditangkap dan bahkan disiksa oleh aparat. Ibunda terus melakukan aktivitas politik sampai ia sendiri ditangkap oleh polisi militer.
Novel ini mengangkat kisah perjuangan kaum buruh Rusia pada sekitar awal abad 20 yang tertindas oleh penguasa lalim Tsar. Novel ini mengangkat sosok Ibunda sebagai tokoh perempuan yang melakukan perlawanan atas penindasan.
ZIARAH BAGI YANG HIDUP
Penulis: Raudal Tanjung Banua
138 Halaman
Penerbit: Mahatari, 2004.

Kedua belas cerita dalam buku ini dikumpulkan dengan suatu asumsi: adanya kesatuan tema dan gaya, yang membuatnya senapas dan sewarna. Ini sekaligus upaya saya menciptakan ruang bagi keutuhan membaca. Setidaknya, keutuhan itu didapatkan dari tema utama tentang alienasi atau keterasingan manusia, yang menjadi napas realitas kedua belas cerita, yang diolah dengan warna dan gaya surealistis, atau imajis. Ini agak berbeda dengan kecenderungan saya yang banyak bergerak pada tataran realis, meski tema keterasingan manusia tetap menjadi obsesi saya pada bagian mana pun! – Raudal Tanjung Banua.
Judul: Kretek Indonesia: Dari Nasionalisme Hingga Warisan Budaya
Penulis: S. Margana, dkk.
83 K

Mari berbincang yang sedikit serius. Tentang minggu pagi yang sejuk dan bangsa yang mudah dikoyak isu-isu bikinan luar. Kretek adalah benda kesekian yang posisinya dibikin tidak nyaman oleh asing, setelah minyak kelapa sawit dan beberapa benda rempah kekayaan Indonesia lainnya. Masih ingat bukan ketika dulu Amerika mengumumkan pada dunia akan hasil penelitiannya bahwa minyak kelapa sawit menyebabkan beberapa penyakit berbahaya pada pencernaan dan mengganggu kecerdasan otak manusia. Dan penduduk dunia diajak beralih menggunakan minyak kedelai.

Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia kala itu, entah sekarang. Dan eksport minyak kelapa sawit menembus menguasai pasar Internasional. Disaat yang sama tanah Amerika merupakan penghasil kedelai. Sudah bisa membayangkan pastinya, kemana maksud dari arah penelitian itu.
Kretek merupakan produk asli Indonesia yang telah menjadi wajah kedaulatan dan warisan budaya. Sejak jaman nenek moyang tidak ada masalah serius pada manusia Nusantara pengkonsumsi kretek. Masalah muncul kemudian ketika produk kretek sudah dimasuki dengan obat-obat kimia macam bubuk penyedap (shoas atau apa penyebutannya itu) yang memberi rasa manis pada rokok. Dan inovasi pemberian gabus sebagai filter. Baik shoas maupun tabus sebagai filter adalah tambahan yang ditiru dari rokok-rokok model Eropa dan Amerika. 2 benda terakhir itulah yang sebenarnya memberi banyak dampak buruk bagi kesehatan pemakainya.
Tradisi pengkonsumsi kretek Nusantara adalah (nglinting) dengan campuran cengkeh yang mempunyai aroma istimewa. Lalu kenapa kemudian cengkeh tidak lagi dipakai? dan pada penelitian selanjutnya tembakau dari dataran tinggi Dieng, Temanggung, Jember, katanya tidak baik. Dan anehnya hasil penelitian itu dipakai dan diamini oleh pemeribtah Indonesia. Hingga kemudian perusahaan-perusahaan rokok yang ada di Indonesia mengimport tembahau dari luar negeri. Duhhhh minggu pagi yang terganggu, teh hangat dulu kawan, sambil baca buku ini.
Diorder,
Judul: Belanja Sampai Mati
Penulis: Alissa Quart
Penerbit: Resist Book
40 K

Merasakan libur kerja untuk ketenangan jiwa dan pikiran. Jangan lupa bahagia ya.
Malam minggu sengaja saya keliling jogja, dan seperti malam minggu yang sudah-sudah. Tempat paling ramai adalah Mall. Jalan depan tempat perbelanjaan adalah sumber kemacetan yang menjalar sampai sampai jarak yang tidak mungkin saya ukur. Kasusnya adalah belanja. Belanja sampai mati, itulah sindiran dari Alissa Quant dan juga lagu bagusnya Efek Rumah Kaca "belanja sampai mati".
Masyarakat kita sudah terjangkiti budaya konsumtif. Suka berbelanja meski barang yang dibeli tidaklah penting untuk dimiliki. Gaya hidup yang hedon ditambah pendapatan yang lumayan menjadikan kaum sosialita terutamanya, hilang ingatan dan buntu akal sehatnya. Fenomena semacam ini terus berlanjut dan bahkan menjalar sampai remaja-remaja, kaum kimcil yang tanpa pendapatan. Hingga malam minggu yang dituju adalah Mall, paginya Mall lagi. Minggu adalah hari untuk Mall. Padahal hari lainnya juga sudah sering ke Mall. Pantai yang indah, pegunungan yang asri, museum penyimpan sejarah, sudut-sudut kota yang eksotik tidaklah menarik untuk dikunjungi.
Mari menelaah gaya hidup manusia yang tidak terwaraskan lagi.